Warta

Durov, Pendiri Telegram asal Rusia

Sosoknya kerap memantik kontroversi

KLIK BALIKPAPAN – Pada Mei 2019, Pavel Durov pernah menyarankan publik dunia agar berhenti menggunakan WhatsApp. Alasannya, layanan tersebut tidak aman. Durov mengatakan jika masalah keamanan WhatsApp bisa muncul lagi dan berkembang biak di masa depan.

Apa yang disampaikannya bukan omong kosong. Buktinya pendiri Amazon, Jeff Bezos, telah mengalami aksi peretasan beberapa bulan lalu setelah menerima video yang berukuran 4,4MB dari WhatsApp yang ternyata video itu mengandung malware.

Kabar peretasan yang dialami Jeff Bezos sampai di telinga Pavel Durov. Alhasil, ia membuat pernyataan cukup menohok. Durov mengatakan jika Bezos menggunakan Telegram, maka tidak akan diretas.

“Kerentanan video korup WhatsApp hadir tidak hanya di iOS, tetapi juga di Android, dan bahkan perangkat Windows Phone. Artinya, di semua perangkat seluler di mana WhatsApp terpasang,” tulis Durov dalam posting blog berjudul ‘Why Using WhatsApp Is Dangerous’ seperti dilansir Gadget 360.

Pada Juli 2017, nama Pavel Durov mencuat di Indonesia. Hal ini setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir Telegram pada Jumat 14 Juli 2017. Siapa sebenarnya Pavel Durov?

Ia adalah pendiri dan CEO Telegram. Sejak lama memang tidak menyukai layanan pesaingnya, WhatsApp. Durov berulangkali mengkritik WhatsApp, bahkan meminta para penggunanya agar membuang Whatsapp dari ponselnya. Teranyar, pria asal Rusia ini mempermasalahkan kebijakan privasi baru WhatsApp.

“Jutaan orang marah dengan kebijakan baru WhatsApp, yang mengharuskan pengguna memasukkan semua data pribadi mereka ke mesin iklan Facebook,” ujarnya.

Menurutnya, tdak mengherankan jika banyak pengguna beralih dari WhatsApp ke Telegram, yang sudah berlangsung beberapa tahun, semakin cepat.

Pavel Durov adalah pendiri sukarela di balik Telegram, sebuah aplikasi pesan instan selain WhatsApp milik Facebook. Telegram yang berbasis di Berlin mengklaim menggunakan dua lapisan enkripsi, sehingga lebih cepat dan lebih aman dibanding layanan pesan lain.

Pengguna dapat mengirim dan mengirim file ke teman, membuat obrolan grup dengan maksimal 200 anggota, atau memilih obrolan rahasia khusus.

Belakangan teroris ISIS disebut menggunakan Telegram ini untuk berkomunikasi. Laith Alkhouri, direktur Riset di Flashpoint Global Partners, menyebutnya sebagai hal baru yang panas di kalangan para jihadis.

Pavel Durov sering disebut sebagai Mark Zuckerberg dari Rusia. Pria berusia 35 tahun ini, sebelum mendirikan Telegram, sempat mendirikan Vkontakte atau VK pada 2006. VK adalah jaringan sosial Rusia terpopuler di Rusia yang berfungsi sebagai alternatif untuk Facebook.

Durov pernah berstatus sebagai pengasingan Rusia. Pada 2014 silam, ia memilih melarikan diri dari negara asalnya karena menolak mematuhi permintaan dari pemerintah Rusia untuk menyerahkan data pengguna Vkontakte Ukraina. Pada saat itu, pemerintah di Rusia telah menguasai Internet.

Ia juga disebut pernah menawarkan pekerjaan kepada Edward Snowden, pelarian AS di Rusia. Ketika Rusia memberikan suaka sementara Snowden pada tahun 2013, Durov mengusulkan agar ia bekerja sebagai pengembang perangkat lunak keamanan di Vkontakte.

Pavel Durov dan saudaranya, Nikolai, memulai membangun Telegram pada tahun 2013. “Sederhananya, tidak masalah berapa banyak aplikasi pesan lainnya di luar sana jika semuanya menyedot,” katanya dalam sebuah wawancara di TechCrunch Disrupt.

Sedangkan Edward Snowden, mendirikan aplikasi pesan lain bernama Signal.

Dalam membangun Telegram, Pavel Durov mengaku lebih memperhatikan ancaman privasi dibanding ancaman teroris. Namun ketika ada laporan teroris ISIS menggunakan Telegram untuk berkomunikasi, Telegram mengatakan mereka memblokir 78 kanal terkait ISIS di 12 bahasa.

Kendati demikian, komunikasi pribadi antar anggota ISIS tidak akan terpengaruh. “Teroris akan selalu menemukan sarana komunikasi yang aman,” katanya. Pavel Durov juga mengklaim tidak sedang mencari uang ketika membuat Telegram. Ia mengaku aplikasi itu dibangun dengan sumbangan dermawan.

Durov seringkali menyebut WhatsApp semacam Kuda Troya yang dimanfaatkan memata-matai foto dan data penggunanya. Ia juga melontarkan rasa tidak percaya terhadap sang induk, Facebook.

“Facebook telah menjadi bagian dari program pengintaian jauh sebelum mereka mengakuisisi WhatsApp. Naif berpikir bahwa perusahaan ini akan mengubah kebijakan setelah akuisisi,” ujarnya.

Ia mengaku heran WhatsApp terus bermasalah soal keamanan sedangkan Telegram tidak. “Telegram, aplikasi yang mirip dalam hal kerumitan, tidak pernah mengalami masalah dalam skala berat seperti WhatsApp dalam 6 tahun sejak peluncurannya,” kata Durov.

Menurutnya, celah yang terus muncul dari WhatsApp sebagai akibat dari kompromi antara Facebook dengan pemerintah atau lembaga intelijen. “Cenderung sangat jarang seseorang bisa tidak sengaja melakukan error keamanan yang besar, cocok untuk pengintaian, secara rutin,” tuturnya.

Di awal tahun 2020, kembali Durov mengatakan WhatsApp adalah layanan berbahaya menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang dikirim via WhatsApp.

Durov mengklaim ada pintu belakang di WhatsApp yang dimanfaatkan petugas keamanan. “Aparat tidak senang dengan enskripsi, memaksa developer aplikasi menanam celah di aplikasinya,” tegas Durov.

“Saya tahu karena telah didekati beberapa dari mereka dan menolak kerja sama. Hasilnya, Telegram dilarang di beberapa negara di mana WhatsApp tak bermasalah dengan otoritas, yang paling mencurigakan adalah di Rusia dan Iran,” ujarnya.

Saat ini Telegram memiliki sekitar 300 juta pengguna, sedangkan WhatsApp 1,5 miliar sehingga ada yang menilai Durov ingin menjatuhkan pesaingnya yang jauh lebih besar. Durov juga mengakui pendapatnya mungkin agak bias.

I Taufik, pelbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker